Senin, 08 Mei 2017

WAR REMNANTS MUSEUM

Aku bukan orang yang sering mengunjungi museum, juga bukan orang yang suka berwisata sejarah. Tapi untuk museum yang satu ini pengecualian, aku benar-benar jatuh cinta!

Namanya War Remnants Museum, yaitu museum untuk mengenang tragedi perang Vietnam. Seperti yang pernah aku bilang di artikel sebelumnya kalau dulu Vietnam pernah terpecah menjadi Vietnam Utara di bawah kekuasaan Komunis dan Vietnam Selatan yang berada dalam pengaruh Amerika.

Pintu masuk/bagian depan War Remnants Museum
Ok, lewat saja detail sejarahnya. Yang membuat aku cinta dengan museum ini adalah meski sederhana, tapi bisa memainkan emosi pengunjungnya (ya mungkin aku yang lebay ya, tapi serius aku seemosional itu waktu itu). Museum ini sama sekali tidak megah, tidak ada pampangan deskripsi panjang yang menjelaskan sejarah perang Vietnam, tidak ada pemutaran film, pokoknya tidak ada hal-hal sophisticated apapun.

Hanya ada beberapa tank Vietnam dan pesawat tempur Amerika yang diletakan di halaman museum
Begitu memasuki gedung di lantai satu, kita akan disuguhkan poster-poster maupun foto-foto demonstrasi untuk menolak perang Vietnam di berbagai negara. Ukurannya besar dan hanya dilengkapi caption singkat. Di sini jantungku terasa penuh sampai menitikan air mata. Terharu sekali melihat orang-orang dari berbagai negara, berbagai ras, berbagai agama, yang mungkin tidak ada urusannya dengan Vietnam, kompak menolak perang itu. Ku cari-cari dimana ya Indonesia? Kalau tidak ada foto demonstrannya, mungkin ada poster sebagai bentuk protesnya. Tapi ternyata tidak ada. Sedang sibuk apa ya Indonesia saat itu? Kebanyakan orang-orang Indonesia kan ngurusin banget urusan orang dan mudah tersulut emosinya, alias pendek sumbu, LOL. *No offense ya, hanya ekspresi keprihatian melihat kondisi sosial media kita sekarang.

Naik ke lantai dua, kita akan menemukan hal-hal menyeramkan. Di sini lah pengelola museum menunjukan foto-foto para korban perang. Lagi-lagi dengan cetakan ukuran besar dan caption singkat. Aku tak sanggup mendeskripsikannya, melihatnya saja tak bisa lama-lama, pokoknya ngeri sekali. Tapi ternyata itu bukan apa-apa. Kalau tadi adalah foto-foto korban perang karena senjata konvensional, di sudut lantai dua ada sebuah ruangan yang memajang foto-foto korban perang karena senjata kimia, namanya "Agent Orange".

Agent Orange adalah julukan untuk kimia berbahaya yang saat itu digunakan pasukan Amerika dengan tujuan menghancurkan bahan pangan dan pepohonan yang dijadikan tempat bersembunyi oleh musuh. Akibatnya tanaman, tanah, bahkan air di sebagian besar wilayah Vietnam tercemar. Hal ini sangat fatal karena kontaminasi dari zat ini akan mengakibatkan cacat fisik. Meski Agent Orange telah berhenti digunakan tahun 1971, namun dampaknya belum hilang hingga puluhan tahun kemudian. Bayangkan, anak-anak yang  lahir tahun 1991 (hanya setahun sebelum aku lahir) masih beresiko menderita cacat fisik karena kontaminasi Agent Orange 20 tahun yang lalu. Tak hanya warga Vietnam yang terimbas, banyak tentara Amerika yang bertugas saat itu pun ikut merasakan dampaknya. Entah dia yang kemudian cacat atau keturunannya yang menanggungnya.

Salah satu foto yang sangat berpengaruh dalam berakhirnya perang Vietnam. Seorang gadis kecil telanjang yang berlari menangis ketakutan karena tempatnya dijatuhi bom.
Salah satu foto yang sangat berpengaruh dalam berakhirnya perang Vietnam. Seorang tentara Amerika menembak kepala warga sipil Vietnam. Saat itu Amerika berdalih mereka memerangi Vietnam karena menganggap Komunis adalah "anjing". Namun dengan beredarnya foto tersebut warga Amerika berbalik menganggap membunuh orang seperti itu membuat mereka tidak lebih baik dari anjing. Kemudian mereka menuntut negara untuk menghentikan Perang Vietnam.
Setelah dibuat benci habis-habisan pada Amerika, di lantai tiga kita diperlihatkan sisi lain negara itu. Ternyata tidak semua tentara Amerika setuju dengan perang ini. Yang berani membangkang negara bahkan membakar dokumen pemberangkatannya. Di sini juga dipamerkan foto-foto yang sangat berpengaruh dalam berakhirnya Perang Vietnam karya para fotografer perang (atau mungkin lebih pas menyebut mereka anti-war photographer karena tentu mereka memotret perang agar dunia mengetahui dampak perang itu dengan harapan perang segera berhenti). Miris juga melihat daftar nama jurnalis yang turut gugur dalam Perang Vietnam. Aku sempat memikirkan ulang cita-citaku untuk menjadi seorang reporter.

Majalah Life benar-benar ada!
Kenalin, ini Robert Capa. Ganteng ya? xp
Di lantai tiga ini juga aku mendapat beberapa kejutan. Ternyata majalah Life yang ada di film "The Secret Life of Walter Mitty" itu benar-benar ada! (ini apa aku doang yang baru tahu ya?) Kemudian aku juga bisa berfoto dengan foto (haha) my favorite anti-war photographer, Robert Capa. Kenapa aku mengidolakan dia? Simpel, ketika aku mereview salah satu karyanya, makalahku dapat nilai A di kelas fotografi yang padahal dosennya terkenal killer. Aku tak benar-benar mempelajari biografinya, buktinya aku tidak tahu dia juga memotret Perang Vietnam xD

Kesimpulannya aku benar-benar jatuh cinta dengan museum ini. Tanpa banyak kata, War Remnants Museum telah menceritakan banyak hal, because a picture is worth a thousand words. Bagiku yang terpenting dalam mempelajari sejarah bukanlah menghafal tanggal-tanggal, tapi mengambil hikmah dari sejarah itu untuk menjadi lebih baik. Dan hikmah yang ku ambil dari Perang Vietnam adalah perang tak membawa kebaikan apapun, ia hanya menyisakan luka. So let's make peace, not war

Related Articles

0 komentar:

Posting Komentar